Sabtu, 24 November 2012

Sitara Brooj Akbar: 'Saya Puteri Timur'


FEATURED POST 


Sitara Brooj: gadis termuda di universitas Cambridge

Sitara Brooj Akbar, seorang gadis 12 tahun, berasal dari Rabwah, kota berpenduduk 70.000 jiwa, 180 km dari Lahore. Tahun lalu Sitara mendapat rekor akademis penting; ia menjadi gadis pertama di usianya yang lulus dari ujian Level 0 (ordinary level) Universitas Cambridge untuk tiga mata pelajaran: Bahasa Inggris, Urdu dan Fisika. Dia berusia sembilan tahun ketika lulus pelajaran Kimia, dan 10 tahun ketika lulus pelajaran Biologi.

Sitara menegaskan dua ikon lokal, untuk style dan kemampuan wanita, dia mengemulasi Benazir bhutto, dengan mengenakan selendang sederhana diatas kepala belakang dan di bahunya. Saya 'puteri timur' katanya, mengambil julukan terhadap Bhutto. Tokoh intelektualnnya adalah Abdus Salam, serang fisikawan Pakistan pertama yang memenangkan penghargaan nobel fisika pada tahun 1979, tetapi diperlakukan sedikit buruk, untuk mengatakan sangat.

Salam sekarang sudah wafat dan Sitara memiliki dua hal yang sama: rasa keingintahuan intelektual yang mendalam dan keimanan yang sama - mereka sama-sama dari Jamaah Muslim Ahmadiyah yang berjumlah jutaan orang di Pakistan, dimana kebebasan fundamentarl untuk menjalankan keyakinana mereka telah mendapatkan ancaman di pakistan sejak tahun 1954, ketika warga sipil turun ke jalan dalam kersuhan anti-Ahmadi.

Di bawah Zulfi Bhutto (Zulfikar Ali Bhotto) amandemen konstitusi pada 1974 memaksakan bahwa Ahmadiyah adalah non-Muslim. Sang dikator beberapa tahun kemudian mengeluarkan Ordonansi XX yang mengerikan, yang merlarang Ahmadiyah untuk membangun masjid, melakukan praktek-praktek Islam, mengumandangkan azan dan mengutip Al-Qur'an atau Hadis. Singkatnya peraturan tersebut menyulitkan para Ahmadi untuk kehidupan sehari -hari mereka.

Saya berusia lima tahun atau kurang sedikit, ketika saya mendapatkan paspor pertama saya. Itu pertama kalinya, ayah saya sangat hati-hati mengisi formulir dengan tembusan di bawahnya, Ia mengisi dengan sempurna. Saya menandatangani tanpa tahu isinya.

Lima tahun kemudian ketika masa berlaku paspor saya berakhir, saya mengajukan pembaruan di Washington DC selama belajar di Amerika Serikat. Ini adalah pertemuan pertama saya dengan negara yang mendukung penindasan. Di bagian bawah tanda tangan saya harus harus setuju dengan pernyataan konyol: Saya menganggap Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai nabi penipu dan menganggap bahwa pengikutnya baik itu Lohore atau Qadiani adalah non-Muslim.

Saya tentunya terkejut, dan mengontak Kedutaan Besar Pakistan untuk mendaftarkan keluhan dan penolakan saya untuk menandatangani dokumen tersebut. Setelah mendegarkan saya, konselor kemudian dengan sabar menyarankan saya untuk mendapatkan hak-hak saya melalui cara-cara yang lain. "Saya juga tidak setuju dengan hal ini" katanya, "Tetapi Anda harus menandatanganinya sehingga anda praktis bisa bergerak, jika tidak Anda tidak akan mendapatkan paspor.."

Saya diselimuti ribuan ketidak senangan, mempertanyakan bagaimana aturan dari pemerintah kita.

Ironisnya, Akbar sangat komitmen terhadap negaranya. Ketika ditanya pada acara TV tentang dimana ia mendapatkan inspirasi dan intelegensinya, ia menjawab, "Anda bisa menyebutnyajasbah. Saya ingin melakukan sesuatu untuk negara saya. Saya ingin melakukan sesuatu untuk membuat kesuksesan dimasa datang.


Sitara memberikan beberapa saran pendidikan yang berguna. 'Belajar dengan menghafal tidak berguna', kata anak 12 tahun ini yang tidak hanya memahami hukum Newton dalam 45 menit tetapi juga dapat menjelaskannya secara konseptual dan praktis dalam waktu yang jauh lebih singkat. Jika Anda tidak mengerti konsep di masa kecil, Anda tidak akan pernah memahami hal-hal lain di waktu dewasa, katanya. Di sekolah, guru-gurunya menganggapnya sebagai murid yang 'menjengkelkan', terlalu banyak bertanya tentang proses belajar mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami untuk diri mereka sendiri.

Sitara seperti halnya Malala, adalah contoh dari apa yang mungkin disebut dendam birokrasi lama, banyak prasangka-prasangka tidak penting dan kebencian yang mendalam. Mungkin ia bisa menjadi duta Pendidikan untuk menginspirasi hal yang sering diabaikan, wanita muda cemerlang. (jusman)

Sumber: http://timesofindia.indiatimes.com/world/pakistan/Star-student-Sitara-A-teen-icon-like-Malala/articleshow/17273752.cms

Minggu, 08 Juli 2012

Selasa, 12 Juni 2012

Syirik & Dusta


alislam.org

Firman Allah SWT
maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (Al Hajj : 30)




Sabda Rasulullah saw

Rasulullah saw bersabda :”Apakah saya beritahukan kepada kalian dosa yg paling besar?”. Kami menjawab,”Ya Huzur beritahukanlah kami”. “Janganlah menyekutukan Allah, Tidak membangkang kepada kedua orang tua,… dan camkanlah dosa besar yg ketiga adalah berdusta dan memberi kesaksian palsu!…”. (HR Bukhari).



Sabda Imam Mahdi Masih Ma'ud a.s.

Syirik dan dusta merupakan sebuah benda yg sama. Manusia sendiri banyak membuat berhala di dalam dirinya, dan banyak sekali berhala dusta yg mereka buat.

Allah telah memfirmankan bahwa dusta itu merupakan kekotoran maka karena itu hindarilah kotoran itu. Bersama penyembahan berhala, dusta pun Allah telah satu kan. (Dalam Al Hajj : 30). Sebagaimana manusia dungu yg meninggalkan Allah lalu dia menundukkan wajahnya di hadapan batu, seperti itu pula setelah meninggalkan kebenaran dan kejujuran, demi tujuan-tujuannya lalu manusia menciptakan dusta sebagai berhala. Oleh sebab itu Allah menyatukan dusta dengan penyembahan berhala dan memberikan pertalian diantaranya. Sebagaimana seorang penyembah berhala ingin mendapatkan keselamatan dari berhala (yakni dia menyangka bahwa batu berhala itu akan menyelamatkannya dari berbagai masalah), demikian pula orang yg berdusta juga telah membuat berhala di dalam dirinya sendiri. Dan dia menyangka bahwa dengan perantaraan berhala dusta maka akan didapatkan keselamatan-keselamatan (dari berbagai masalah).

Lebih dari itu apalagi kemalangan yg akan terjadi bila (berhala) dusta dianggap sebagai sandaran (dan meninggalkan Allah sebagai sandaran)? Tetapi saya meyakinkan kepada kalian bahwa pada akhirnya kebenaranlah yg akan menang. Kebaikan dan kemenangan adalah milik-Nya. (Malfuzhat).


Khutbah Hazrat Khalifatul Masih V atba

Shiddiq (benar/tulus), yakni yg benar-benar telah fana dalam ketulusan, kejujuran, dan berdisiplin secara sempurna, menjadi orang yg tulus dan pecinta sejati. Ini adalah sebuah derajat yg apabila seseorang telah sampai padanya maka dia merupakan kumpulan segenap kebenaran dan kejujuran.

Falsafah peraih kesempurnaan seorang shiddiq adalah bilamana dia melihat kelemahan dan ketidak berdayaan dirinya, maka sesuai dengan kemampuannya dia mengatakan “Iyya kana’budu – Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan mulai berlaku tulus dan (disiplin) berlari dari segenap kebohongan dan kekotoran yg terkait dengan dusta.

Berjanjilah bahwa dalam corak apapun saya tidak akan berdusta. Dan apabila dia berjanji sedemikian maka seolah-olah dia mengamalkan suatu yg Khas pada Iyyaa kana’budu, dan amalnya itu merupakan ibadah yg sangat tinggi.

Kelanjutan Iyyaa kana’ budu adalah Wa iyyaa kanasta’in (dan hanya kepada Engkau kami memohon). Allah merupakan tempat permulaan (awal) segenap karunia dan merupakan sumber kebenaran dan kejujuran. Allah pasti akan menolongnya dan Dia akan membukakan kepadanya hakikat-hakikat sesuatu dan jalan kebenaran.

Dan demikian pula apabila manusia mencitai kebenaran dan kejujuran, serta menjadikannya sebagai kebiasaan khasnya, maka inilah yg akan menarik kebenaran agung yg hanya milik Allah. Al Qur’an merupakan penjelmaan dari kebenaran yg utuh dan sosok yg menjelmakan kebenaran Al Qur’an itu adalah wujud yg penuh berkah Muhammad saw, dan demikian pula para rasul dan utusan Tuhan merupakan sosok-sosok yg benar, jujur, dan tulus.

Jadi apabila seseorang sampai pada derajat kebenaran/ketulusan, baru matanya (penglihatannya) akan terbuka dan dia akan meraih basyirat (ketajaman pemahaman) yg khas yg darinya makrifat-makrifat Al Qur’an mulai terbuka padanya.

Saya sama sekali tidak pernah siap untuk menerima bahwa seorang yg tidak mencintai kejujuran/kebenaran dan tidak menjadikan ketulusan sebagai ciri khasnya lalu dia dapat memahami makrifat-makrifat Al Qur’an, hal itu tidak akan dia dapatkan karena Qolbunya sama sekali tidak memiliki keselarasan dengan Al Qur’an. Karena Al Qur’an merupakan sumber mata air kebenaran/kejujuran, dan hanya orang yg mencintai kejujuranlah yg dapat minum dari mata air itu. (Darsus 09).

Senin, 06 Februari 2012

TAFSIR BISMILLAAH



Aku baca dengan[1] nama[2] Allah[3] Maha Pemurah, Maha Penyayang[4].


[1]  Ba’ itu kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti dan arti yang lebih tepat di sini ialah “dengan”. Maka kata majemuk bism itu akan berarti “dengan nama”. Menurut kebiasaan orang Arab kata iqra’atau aqra’u  atau naqra’u atau isyra’ atau asyra’u atau nasyra’u harus dianggap tercantum sebelum bismillah, suatu uangkapan dengan artimulaillah dengan nama Allah” atau “bacalah dengan nama Allah” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah” atau “aku atau kami baca dengan nama Allah”. Dalam terjemahan ini ucapan bismillah diartikan “dengan nama Allah,” yang merupakan bentuk paling lazim (Lane).

[2]  Ism mengandung arti: nama atau sifat (Aqrab). Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu menunjuk kepada Allah, nama wujud Tuhan; dan kepada Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim(Maha Penyayang) yang keduanya juga nama sifat Tuhan.

[3] Allah itu nama Dzat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata Allah itu tak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tiada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama penunjuk sifat atau nama pelukisan dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak. Akan tetapi kata Allah tak pernah dipakai dalam bentuk jamak. Kata Allah itu “ism dzat” tidak “Musytak”, tidak diambil dari kata lain, dan tak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada kata lain yang sepadan –yang dapat mengartikan kata Allah, maka nama “Allah” dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat al-Quran. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat, kata “Allah” itu nama wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan huruf al adalah (rangkain) yang tak terpisahkan dari kata itu (Lane).

[4] Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar kata yang sama. Rahima artinya ia telah menampakan kasih sayang, ia ramah dan baik, ia memafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah (kehalusan) danIhsan (kebaikan dan kebijakan) {Mufradat}. Ar-Rahman masuk kedalamwazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahim dalam wazan fa’il. Menurut kaedah tatabahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya (Kasyasyaf). Wazan fa’lanmembawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang wazan fa’il  menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Muhith). Jadi di mana kata Ar-Rahman  menunjukan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Ar-Rahim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnyaterbatas tapi berulang-ulang ditampakan”. Mengingat arti-arti di atas, maka:
a.     Ar-Rahman itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal. Sedangkan Ar-Rahim itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.
b.    Kata Ar-Rahman hanya dipakai untuk Tuhan, sedangkan Ar-Rahimselain Tuhan dipakai pula untuk manusia.
c.    Ar-Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh mahluk. Sementara Ar-Rahim khusus tertuju untuk orang-orang mukmin saja.

Bismillahir-Rahmanir-Rahim adalah ayat pertama tiap-tiap surah al-Quran, kecuali Al-Bara'ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan Surah yang berdiri sendiri melainkan lanjutan Surah Al-Anfal. Ada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang maksudnya, bila surah baru diwahyukan biasanya dimulai dengan bismillah, dan Rasulullah saw tidak pernah mengetahui bahwa surah baru telah diwahyukan padanya jika tanpa dimulai dengan bismillah (Abu Daud). Hadis ini menampakan bahwa:
  1. Bismillah itu bagian al-Quran dan  bukan suatu tambahan, dan
  2. Surah Al-Bara'ah (At-Taubah) itu bukan surah yang berdiri sendiri melainkan bagian dari surah Al-Anfal.
Hadis ini menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa bismillah hanya merupakan bagian surah al-Fatihah saja dan bukan bagian semua surah al-Quran. Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ayatbismillah itu bagian dari seluruh surah al-Quran (Bukhari & Muslim). Ditempatkannya bismillah pada permulaan tiap-tiap surah mempunyai arti sbb:
  1. Al-Quran itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan "Tiada orang yang boleh menyentuhnya kecuali orang yang telah disucikan" (56:80). Jadi bismillah telah ditempatkan pada permulaan tiap Surah dengan maksud untuk memperingatkan orang Muslim bahwa untuk dapat masuk ke dalam khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam al-Quran, serta untuk memperoleh faedah dari padanya, maka hendaknya ia mendekatinya bukan hanya dengan hati yang suci, melainkan harus pula senantiasa mohon pertolongan Tuhan. 
  2. Ayat bismillah pun mempunyai tujuan penting lainnya, bahwa ayat itusebagai kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap Surah. Sebab segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani dengan satu atau lain cara, ada pertaliannya dengan dua sifat Ilahi yang pokok, yaitu Rahmaniyah(Kemurahan) dan Rahimiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiap-tiap surah pada hakekatnya merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini.
Ada tuduhan bahwa kalimah bismillah itu diambil dari Kitab-kitab Suci sebelum al-Quran. Kalau Sale (seorang Orientalis) mengatakan bahwa kalimah itu diambil dari Zend Avesta (Kitab Sucinya agama Zaroaster), maka Rodwell berpendapat bahwa orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukan ke dalam al-Quran. Kedua faham tersebut nyata sekali salah, karena:
1. Pertama, tidak pernah ada orang Islam yang mengclaim dan mendakwakan bahwa sebelum al-Quran diwahyukan, kalimah bismillah tidak pernah dikenal oleh mereka sebelumnya baik dalam bentuk susunan redaksi seperti sekarang ini atau dalam redaksi lainnya.
2. Kedua, keliru sekali yang menganggap jika kalimah bismillah bukan berasal dari Tuhan, hanya karena sebelum diwayuhkan ke dalam al-Quran kalimah tersebut sudah biasa digunakan dalam percakapan orang-orang arab baik bentuknya sama atau serupa dengan kalimah bismillah sekarang ini.

Sebenarnya al-Quran sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman as., memakai kaliamah ini dalam suratnya ke Ratu Saba (27:30). Apa yang didakwakan orang-orang Islam--sedang dakwah itu tidak pernah ada yang membantah adalah bahwa diantara kitab-kitab suci, al-Quran merupakan yang paling pertama memakai kalimah itu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang Arab sebelum Islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa orang-orang Arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Ar-Rahman sebagaipanggilan untuk Tuhan. Pula jika kalimah ini dikenal sebelumnya, maka hal tersebut malah mendukung kebenaran ajaran al-Quran bahwa, tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (32:24), dan juga bahwa, al-Quran itu khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam kitab-kitab suci sebelumnya (98:4). Al-Quran tentu menambah lebih banyak lagi dan apapun yang diambilnya, kitab suci ini (al-Quran) memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau bahkan memperbaiki kedua-duanya. (Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad)

AL-QUR'AN DAN SYAITAN


Al-Quran merupakan kitab paripurna. Tidak ada satu pun kitab suci yang diagungkan kedudukannya seperti al-Quran. Posisinya yang begitu mulia menempatkannya pada kesakralan akan makna dan kandungannya. Mengingat hal tersebut, maka Allah SWT menganjurkan kepada orang-orang mukmin agar sebelum membaca al-Quran hendaknya memohon perlindungan kepada-Nya dari bujukan dan tipu muslihat syaitan:
"Maka apabila engkau hendak membaca al-Quran, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk," (16:99).
Makna dari Perlindungan kepada Allah SWT terhadap Syaitan berarti, bahwa:
1. Jangan ada kejahatan menimpa kita
2. Jangan ada kebaikan terlepas dari kita, dan
3. Sesudah kita mencapai kebaikan, kita tidak terjerumus kembali ke dalam kejahatan. Maka doa yang diperintahkan untuk itu semua adalah: 
"Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk". 
Dan doa ini harus dibacakan setiap kali hendak membaca al-Quran.

HIKMAH SEBUAH CERITA


Seorang Ilmuan Atheis menumpang perahu ketika hendak menyebrang ke sebuah pulau. Di dekatnya duduk seorang yang senang ibadah. Ia bertanya kepada si tukang perahu seraya melirik ke ahli ibadah tersebut.
"Sobat, apakah anda pernah belajar matematika?" tanyanya.
"Tidak," jawab si tukang perahu menggelengkan kepala.
"Bagaimana dengan anda pak ustadz?" tanyanya juga. Si ustadz tersenyum.
"Sedikit," kata si ustadz.
"Sayang sekali, berarti anda berdua telah kehilangan seperempat kehidupan anda," ujarnya menghakimi. 
"Atau barangkali anda berdua pernah mempelajari Ilmu Filsafat?" lanjutnya. 
"Sedikit," ucap ustadz seraya tersenyum. Profesor itu menaikan alisnya meminta jawaban si tukang perahu.
"Mana ada waktu untuk saya mempelajari ilmu seperti itu," jawabnya polos.
"Sayang, sungguh sayang. Anda berdua benar-benar telah kehilangan seperempat lagi kehidupan anda artinya anda sudah menghilangkan setengah dari kehidupan anda," ujarnya membanggakan diri. 
"Bagaimana dengan sejarah?" lanjutnya.
"Saya hanya cukup mengenal sejarah keluarga saya saja," ucap si tukang perahu kesal. 
Si ilmuan melirik ke ustadz yang duduk disebelahnya.
"Sedikit," jawab si ustadz pendek.
"Aduh-aduh, bagaimana ini.......," kata si profesor meledek.

Namun tiba-tiba angin bertiup kencang. Langit mendadak tertutup awan gelap. Kilatan cahaya dan suara petir menggelegar dimana-mana. Laut yang sebelumnya tenang, kini bergelombang terkena badai besar. Perahu yang mereka tumpangi pun terombang-ambing. Si Ilmuan terlihat pucat ketakutan. Di sebelahnya si ustadz hanya tersenyum.

"Bagaimana nih pak ustadz, koq tenang-tenang saja, siapa yang akan menolong kita?" teriak si ilmuan panik. Sang ustadz memalingkan wajah ke arahnya.
"Selain ilmu-ilmu yang anda pelajari tadi, apakah anda juga mempelajari ilmu tentang adanya Tuhan?" tanya si ustadz.
"Tidak," geleng si profesor.
"Atau anda pernah belajar berenang?" susul tukang perahu.
"Tidak," jawab ilmuan gemetaran.
"Apes sekali anda ini, selain anda tidak kenal Tuhan, anda juga tidak bisa berenang, artinya anda akan kehilangan seluruh kehidupan anda."

(Kisah ini telah mengalami sedikit perbaikan, sumbernya diambil dari milis y_awwab@yahoo.com dan juga dikutip dari site : http://islam-oke.blogspot.com)